"Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si membuka Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Internasional Solusi Iklim Berbasis Alam (Nature-Based Climate Solutions Conference). dok.brida_mediapapuabarat
BridaNews_Manokwari(9/2/2026) – Provinsi Papua Barat secara resmi menjadi tuan rumah dua pertemuan ilmiah internasional bergengsi sekaligus: Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Internasional Solusi Iklim Berbasis Alam (Nature-Based Climate Solutions Conference).
Acara yang berlangsung 10–14 Februari 2026 di Manokwari ini dibuka dengan sambutan hangat Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., yang juga merupakan Kepala Suku Besar Arfak dan Pahlawan Konservasi Global 2019.
Dalam pidatonya, Gubernur Mandacan menyampaikan rasa bangga sekaligus terima kasih atas kepercayaan dunia internasional yang memilih Manokwari sebagai lokasi penyelenggaraan. Ia menilai kehadiran ratusan peserta dari berbagai negara sebagai pesan kuat bahwa Papua Barat adalah wilayah yang aman, kondusif, dan layak menjadi pusat diskusi ilmiah strategis tentang keanekaragaman hayati dan ketahanan iklim.

"Sambutan dan Arahan Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si" (dok.brida_mediapapuabarat)
“Keberadaan hutan yang masih mencapai lebih dari 70 persen wilayah kami tumbuh di atas tanah tipis. Jika hutan ini rusak, pemulihannya sangat lama dan dampaknya bisa berupa longsor, pencemaran sungai, hingga ancaman bagi masyarakat pesisir,” ujar Gubernur Mandacan.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Papua Barat mengadopsi pendekatan Ridge to Reef sebagai strategi utama pembangunan berkelanjutan, mengintegrasikan pengelolaan daratan dan lautan secara menyeluruh. Gubernur juga mengajak peserta untuk menikmati keindahan alam serta keramahan masyarakat Manokwari sembari mengingatkan pentingnya menjaga alam agar anak cucu tidak mewarisi air mata, melainkan mata air yang jernih.
Ratusan Peserta dari Berbagai Negara
Menurut laporan Ketua Panitia Bersama, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si.—yang juga menjabat Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Bappeda Provinsi Papua Barat—konferensi ini diikuti sekitar 300 peserta. Sebanyak 195 orang mendaftar secara daring, dengan komposisi: 56 peserta internasional dari Amerika Serikat, Australia, Belanda, Brasil, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Papua Nugini, Inggris, India, Jerman, Prancis, Kanada, dan Jepang; 89 peserta domestik dari berbagai provinsi di Indonesia.
Kegiatan ilmiah utama mencakup: 7 sesi pleno dengan 15 narasumber internasional dan nasional, 28 sesi panel yang membahas lebih dari 100 abstrak penelitian terkini, dan 17 presentasi poster ilmiah.

"Sambutan Gubernur Papua Barat yang diwakili Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si dalam pemutaran film Merayakan Keragaman Papua" (dok.brida_mediapapuabarat)
Tidak hanya Konferensi Akademik
Panitia sengaja merancang acara ini tidak hanya sebagai forum pertukaran makalah ilmiah, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan pengetahuan, budaya, dan pengalaman lapangan. Beberapa kegiatan pendukung yang telah dan akan dilaksanakan meliputi:
Diskusi film bertema lingkungan (telah digelar 8 Februari di XXI Mall of Manokwari), Booth sponsor yang dibuka untuk umum di Mall of Manokwari selama periode konferensi dan Field trips yang memungkinkan peserta merasakan langsung kekayaan alam Papua:
- Kelompok Nature-Based Climate Solutions mengunjungi Teluk Bintuni (11–14 Februari),
- Peserta Flora Malesiana melakukan eksplorasi dan pendakian botani di Pegunungan Arfak (13 Februari).
Tujuan Strategis dan Dampak Jangka Panjang
Prof. Charlie Heatubun menjelaskan bahwa konferensi ini memiliki dua jalur dampak utama. Pertama, menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman langsung di Tanah Papua. Kedua, menempatkan Papua Barat dalam sirkulasi ilmiah global untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti yang relevan bagi pembangunan berkelanjutan.
Forum ini juga diharapkan memperkuat komitmen perlindungan kawasan konservasi dan spesies endemik Papua, sekaligus meningkatkan branding Papua Barat sebagai daerah yang serius menjalankan pembangunan berkelanjutan. Di sisi lain, acara ini membuka peluang kerja sama strategis di bidang pendanaan hijau, transfer teknologi, dan kolaborasi riset internasional.
"Laporan Ketua Panitia Bersama, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut., M.Si" (dok.brida_mediapapuabarat)
“Kemakmuran masyarakat hanya dapat tercapai jika berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Dengan menjaga flora dan fauna endemik Papua, kita juga melindungi sistem penyangga kehidupan, terutama bagi masyarakat adat,” tegas Prof. Heatubun.
Apresiasi untuk Semua Pihak
Baik Gubernur Mandacan maupun Ketua Panitia menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang terlibat, termasuk: Pemerintah Provinsi Papua Barat, Flora Malesiana Foundation, Universitas Papua (UNIPA), National University of Singapore (NUS),
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), seluruh sponsor dan mitra pembangunan, Panitia lokal, relawan, aparat keamanan, tenaga medis, serta pihak penyedia layanan pendukung.
"Pemukulan Tifa sebagai tanda dibukanya Simposium Internasional Flora Malesiana ke-12 dan Konferensi Internasional Solusi Iklim Berbasis Alam (Nature-Based Climate Solutions Conference). " (dok.brida_mediapapuabarat)
Di akhir sambutannya, Gubernur Mandacan menyampaikan seruan puitis yang menjadi penutup sekaligus pengingat: “Birukan langit dan laut, hijaukan bumi. Kita jaga hutan, hutan akan jaga kita. Kita jaga laut, laut akan jaga kita. Kita jaga alam, alam akan jaga kita.”
"Foto bersama" (dok.brida_mediapapuabarat)
Dengan demikian, simposium dan konferensi ini tidak hanya menjadi ajang ilmiah, melainkan juga momentum bersama untuk memperkuat komitmen menjaga kekayaan alam Papua demi kesejahteraan generasi mendatang.(*)

