Pengembangan Wisata Bahari Manokwari: Kuncinya Kolaborasi dan Komitmen

"Suasana diskusi bersama komunitas bahari Kabupaten Manokwari" dok.brida_mediapapuabarat

BridaNews_Manokwari – Sebagai upaya untuk mengembangkan wisata bahari Manokwari, Papua Youth Creative Hub (PYCH) bersama dengan beberapa komunitas bahari melakukan diskusi bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, Dinas Pariwisata dan pihak akademisi di Pondok Kopi Matoa Amban, Manokwari pada Jumat, 14 Februari 2025.

Potensi wisata Bahari di provinsi Papua Barat sangat besar dan tersebar hampir merata di seluruh kabupaten. Salah satunya adalah Kabupaten Manokwari yang memiliki potensi wisata bahari seperti wisata Pantai Pasir putih, Pantai Bakaro, Pantai Amban; olahraga air seperti surfing, menyelam, paddle dan speedboat; pulau yaitu Pulau Lemon dan Mansinam dengan potensi alam, budaya dan religinya. Dengan potensi yang ada, namun belum terkelola secara inklusif (bersama), terarah (program dan kebijakan) sehingga belum memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat dan juga pelestarian ekosistem bahari yang ada secara nyata.

"Diskusi oleh beberapa  komunitas bahari Kabupaten Manokwari" (dok.brida_mediapapuabarat)

Simon Tabuni, Ketua PYCH pusat dalam mengawali diskusi mengatakan bahwa pertemuan ini juga sebagai langkah inisiatif dalam memperkuat promosi wisata bahari yang sudah ada. Setelah Raja Ampat bukan lagi milik Provinsi Papua Barat, sehingga Papua Barat dalam hal ini Manokwari sebagai ibu kota Provinsi harus mempunyai sesuatu yang bisa dijual dari segi wisata. “Saya rasa, perairan Manokwari tidak kalah dari Raja Ampat sehingga sekarang tinggal bagaimana untuk mengelolanya secara terstruktur sehingga dapat berkembang”, tambah Tabuni.

Selanjutnya dalam diskusi, Alex, Ketua Ketapang Dive menceritakan sedikit pengalaman yang sudah dilalui sebagai instruktur diving bagi para wisatawan yang berkunjung ke Manokwari. “Sudah lima tahun saya sebagai penyelam di perairan Manokwari, dan sudah ada 21 penyelam anak-anak Doreri yang saya didik, ada juga yang asli suku Miyah dan masih banyak lagi”, ucap Alex. Lanjutnya menjelaskan beberapa potensi unggulan bahari yang menjadi daya tarik para wisatawan khususnya penyelam, yaitu wreck. “Berdasarkan pengalaman saya menemani beberapa tamu dari Asia di Desember 2024, mereka mengatakan bahwa Manokwari punya spot untuk menyelam yang menurut mereka sangat menarik dan terbaik yaitu Shinwa Maru Wreck di perairan BLK Manokwari. Berdasarkan pengalaman juga, Alex berharap ada sebuah regulasi yang dapat melindungi spot-spot dive sehingga tidak dirusak oleh aktivitas manusia dan juga regulasi terkait masuk keluarnya wisatawan sehingga ada masukan juga buat daerah (PAD).

"Papua Youth Creative Hub (PYCH) bersama dengan beberapa komunitas bahari melakukan diskusi bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, Dinas Pariwisata dan pihak akademisi di Pondok Kopi Matoa Amban" (dok.brida_mediapapuabarat)

Setelah itu, Ketua Komunitas Anak Air Agus berbagi informasi tentang apa yang telah mereka lakukan di internal komunitas, diantaranya yaitu terkait edukasi lingkungan pesisir melalui ekonomi kreatif. Selain itu, Komunitas Anak Air juga mengembangkan berbagai olahraga air sehingga menarik perhatian anak-anak di pesisir untuk terlibat pada kegiatan-kegiatan edukasi lingkungan yang menjadi program utama komunitas. Namun dalam pengembangannya, Yayasan juga harus berpikir untuk bagaimana meningkatkan taraf ekonomi dari anggota komuitas sehingga akhirnya kami menghasilkan beberapa ekonomi kreatif pesisir diantaranya Katamaran (cafe perahu), cafe di pesisir pantai amban dan juga ada beberapa guest house di tanjung pepaya. Lebih lanjut, Ia juga mengatakan bahwa walaupun terdengar sudah banyak bisnis-bisnis yang dilakukan, tetapi dampak langsung ke masyarakat belum terlihat secara nyata karena menurutnya semua bisnis atau kegiatan yang dilakukan masih kalah pasar sehingga profit bagi masyarakat pelaku belum terlihat secara signifkan. Ia berharap, melalui pemerintah daerah adanya pendampingan kepada mereka pelaku ekonomi kreatif anak air sehingga mereka dapat meningkatkan bisnis mereka, apakah dari segi managment, pengelolaan keuangan, promosi dan lain sebagainya.

Setelah mendengar berbagai pengalaman dari beberapa komunitas, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si selaku Kepala BRIDA Provinsi Papua Barat sebagai lembaga yang bekerja di bidang riset dan inovasi di Provinsi Papua Barat menanggapi semuanya dengan satu kata kunci yaitu ‘Kolaborasi’. “Kami BRIDA punya tanggung jawab untuk membantu dari segi riset dan inovasi”, tetapi juga ada Mitra Pembangunan yang bisa memberi dukungan baik berupa anggaran, pelatihan/penguatan SDM dan lain sebagainya.

"Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si saat memberikan beberapa masukan penting dalam membangun wisata bahari di Kabupaten Manokwari bagi beberapa komunitas bahari" (dok.brida_mediapapuabarat)

“Intinya, komitmen dari setiap pemangku kepentingan adalah sangat penting sehingga kolaborasi yang nantinya terbangun dapat berkesinambungan dan menghasilkan ouput yang bermanfaat bagi para pelaku ekowisata bahari di Provinsi Papua Barat, khususnya di Manokwari”, tutup Kepala BRIDA. (chr/brida_mediapapuabarat)


Banner
Video

April

MINSENSELRAMKAMJUMSAB
303112345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930123