"Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si, saat audensi bersama Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P." dok.brida_mediapapuabarat
BridaNews_Jakarta, 12 Maret 2026 — Pemerintah Provinsi Papua Barat yang dipimpin Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si., melakukan audiensi dengan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Pertemuan tersebut membahas rencana pengembangan komoditas perkebunan strategis di Papua Barat, khususnya kakao, dalam periode 2025–2027.
Dalam audiensi tersebut, Gubernur Mandacan memaparkan rencana pengembangan kakao seluas 68.734 hektare hingga 2027 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp357,52 miliar untuk program peremajaan dan perluasan kebun kakao.

"Audensi yang dilakukan oleh beberapa kepala daerah bersama Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P.," (dok.brida_mediapapuabarat)
Program pengembangan ini difokuskan pada wilayah potensial, terutama Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Manokwari Selatan. Data yang dipaparkan menunjukkan luas kebun kakao eksisting di Manokwari mencapai sekitar 4.530 hektare, sedangkan di Manokwari Selatan sekitar 2.381 hektare. Melalui program perluasan areal baru, pemerintah menargetkan tambahan 1.500 hektare guna meningkatkan produksi kakao daerah.
Selain meningkatkan produksi, program ini juga diproyeksikan membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Sektor kakao diperkirakan dapat menyerap sekitar 2.500 tenaga kerja di sektor hulu.

"Rencana Pengembangan dan Hilirisasi Komoditi Strategi Perkebunan Provinsi Papua Barat" (dok.brida_mediapapuabarat)
Paparan tersebut merupakan bagian dari Rencana Pengembangan dan Hilirisasi Komoditas Strategis Perkebunan (ABT) 2025–2027. Dalam rencana nasional tersebut, pemerintah menargetkan pengembangan enam komoditas utama, yakni tebu, kakao, kelapa, kopi, mete, serta lada dan pala.
Secara nasional, target pengembangan komoditas strategis tersebut mencapai 870.890 hektare dengan total kebutuhan investasi sekitar Rp9,95 triliun. Program ini diperkirakan dapat menyerap sekitar 1,63 juta tenaga kerja dan menghasilkan lebih dari 5,28 juta ton komoditas perkebunan.
Khusus untuk Papua Barat, selain kakao pemerintah juga menyoroti potensi komoditas pala yang selama ini berkembang di Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana. Kedua wilayah tersebut memiliki luas kebun pala eksisting sekitar 30.778 hektare dan menjadi bagian dari rencana peningkatan produksi hingga 2027.
Gubernur Mandacan berharap dukungan dari Kementerian Pertanian agar program pengembangan komoditas perkebunan tersebut dapat berjalan optimal.
Menurutnya, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat, membuka lapangan kerja, serta mendorong hilirisasi produk perkebunan di Papua Barat.

"Gubernur Papua Bara, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si saat bersalaman Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P.," (dok.brida_mediapapuabarat)
Dalam audiensi tersebut, Gubernur Papua Barat didampingi oleh Sekretaris Daerah Papua Barat, Plt. Kepala Bappeda yang juga menjabat Kepala BRIDA, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kepala Dinas Peternakan, Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah, serta Kepala Badan Penghubung Provinsi Papua Barat.(*)

